9 Apr
Oleh Eka Situmorang-Sir pada Cerita Diary, Cerita Politik, Cermin Diri. Ditandai:Bertengkar, diary, Kalbu, kampanye, kemunafikan, Nalar, pemilu, politik, Sportif. & Komentar
| fandhie di Sebuah Simfoni | |
| 1nd1r4 di Sebuah Simfoni | |
| anang di Sebuah Simfoni | |
| dea puspita rani di namaku BENING | |
| Aryo di KAYLA dan Bos Brengseknya | |
| Wibowo Utomo di Rumah Tetirah | |
| neng®atna di Rumah Tetirah | |
| kacierkusuma di Nalar & Kalbu | |
| kacierkusuma di Eka terjerembab Rok Mini | |
| Tongkonan di Rumah Tetirah |
Blog pada WordPress.com. Theme: SpringLoaded by the449.
Posted by soulharmony on April 9, 2009 at 8:08 PM
saya GOLPUT
Posted by dionbarus on April 9, 2009 at 9:08 PM
Ini posting politik atau filsafat politik sih, mbak eka?
.
Menurut saya sih, pemilu di Indonesia tidak lebih dari sekedar seremonial belaka. Pemilu hanya digunakan sebagai ajang untuk mengisi posisi bukan untuk mencari kualitas pemimpin.
Posted by ekaria27 on April 10, 2009 at 8:56 PM
Sepertinya masih begitu. Cari posisi… heeem makanya kemarin nalar saya ribut terus.
Posted by Ade on April 9, 2009 at 9:57 PM
Hidup contreng!!! walopun belum tau mau nyontreng yang mana
Posted by Daiichi on April 9, 2009 at 10:36 PM
Kalo bagi saya pilihan saat ini yang sedikit masuk akal adalah, GOLPUT… Maap bukannya ga punya pendirian tao gimana!! tapi kan GOLPUT juga merupakan pilihan, bukan begitu bukan….
Posted by chie on April 10, 2009 at 8:05 AM
sy meMiliH unTuk memiLih…
Posted by edratna on April 10, 2009 at 8:19 AM
Sebagai warganegara yang baik, juga untuk mendidik anak-anak, saya menggunakan hak pilih saya. Datang ke TPS sudah merupakan dukungan moral untuk bangsa ini.
Posted by Reinhard PP Lumbantobing on April 10, 2009 at 2:39 PM
Inilah paradoksnya hidup ya. Satu kata untuk tesis dan satu kata lagi untuk antitesis. Satu alasan untuk memilih dan satu alasan untuk tidak. Pilihan yang kita ambil hanya tergantung bagaimana kita mempertemukan keduanya.
Tapi dari keduanya, saya memilih untuk menyerah. Menyerah dengan memilih untuk tidak memilih.
Posted by achoey on April 10, 2009 at 6:59 PM
Untung gak pilih saya
Posted by FaNZ on April 10, 2009 at 10:00 PM
Saya memilih untuk tdak golput
Posted by enno on April 10, 2009 at 11:17 PM
ka, loe gak nyontreng gue ya?
gue gitu lho? enggak? nggak loe contreng?
yaaaah…
teganya, teganya, teganya…
hehe, tetep semangat nulis meskipun ada insiden itu ya
Posted by mrpall on April 11, 2009 at 12:06 AM
menurut aku …tak seorangpun didunia ini yg yg tak tercemar….hehehehe salammmmm
Posted by mrpall on April 11, 2009 at 12:07 AM
termasuk aku mba
Posted by Tuyi on April 11, 2009 at 8:33 AM
Nyontrengnya Apa mba’…
moncong putih bukan….?
Posted by ekaria27 on April 11, 2009 at 1:57 PM
contrengan dirahasiakan
sy cuma pengen jadi WN yg baik, moga mreka yg terpilih menjalankan amanah dgn baik juga hehe
Posted by genial on April 11, 2009 at 2:58 PM
saya malah bobo tepar di hari H
Posted by Sanjaydut on April 11, 2009 at 6:38 PM
Ikut nimbrung mbak, lam kenal aja
Posted by Muzda on April 12, 2009 at 3:59 AM
Saya mengawasimu wahai pilihanku.
—
Hmm, denger tu Mba’ Eka ngomong,, dahsyat kali kata penutupmu
Jadi nasibku yang terabaikan itu bisa juga disebut berkah, bila ternyata mungkin pilihanku salah
Posted by arsyadsalam on April 12, 2009 at 10:30 AM
Nalar dan Kalbu… ibarat dua sisi mata uang yang bersemayam dalam jiwa kita…
sebagaimana dialog imajiner lainnya, yg pernah saya baca, pertentangan tentang cara mwelihat pemilu seperti ini adalah hal yg purba. Ia telah lama ada dan berakar kuat dalam kesadaran orang2 dulu. Ketika Sokrates mendebat muridnya yg dungu tapi setia, Hippias, Sokrates berkata” Wahai Hippias, apakah yag terlebih dahulu harus dipenuhi, apakah pemimpin yangb baik ataukah keadaan adil dan baik?
*btw tulisan diatas sangat berfaedah. Andai menggunakan kalimat dan kutipan dialog langsung, mungkin akan lebih menarik lagi.
Salam dan selamat memilih.
Posted by ekaria27 on April 13, 2009 at 11:03 AM
Trims untuk inputnya mas !
Posted by Ria on April 12, 2009 at 1:20 PM
aku gak ikutan nyontreng…gak kedaftar mbak
Posted by Pasa Firaya, ST on April 12, 2009 at 5:15 PM
Berkunjung dan baca infonya, mudah-mudahan bermanfaat bagi banyak orang, sukses.
I Like Relationship.
Posted by Anton on April 12, 2009 at 6:47 PM
La gimana seperti saya yang di paksa “GOLPUT” nggak terdaftar di DPT ?
Posted by Ikkyu_san on April 13, 2009 at 12:30 AM
aku ikut tuh meskipun milihnya setelah tahu hasilnya dulu, dan tidak memilih majority hehehe
EM
Posted by ichaawe on April 13, 2009 at 1:16 AM
aku gak ikuta milih euuuy… terlalu malas membayangkan keluar kota memakan waktu 2,5jam perjalanan hny tuk mencontreng sesuatu yg saya tdk mengerti sama sekali sapa yg patut dicontreng sapa yg tdk. hehehe.
Posted by ubadbmarko on April 13, 2009 at 5:47 AM
Kalo saya nyaleg, pasti Eka nyontreng saya.
Posted by ekaria27 on April 14, 2009 at 1:00 PM
Tergantung bagaina bapak meyakinkan saya
dan juga berapa uang di amplop ! Huahahahha joking pak
Posted by fachrielantera06 on April 13, 2009 at 5:55 AM
belum pernah memilih karena gak pernah daftar dan sebagainya…kalau ada yang daftarin ku datang aja sih..cuman ya gitu deh..pasti bingung mau milih siapa? wong orang bukan dari Bandung..gak tau siapa yang harus dipilih…
yang pastinya kita memang harus memilih..
di negara2 yang maju ..mereka akan berpikir bahwa satu suara itu sangat berharga..tapi di negara2 yang seperti ini..dimana orang-orangnya pada malas..membuatku sama aja boong..tapi Insya Allah ku memilih ko suatu saat ..sekarang lagi sibuk banyak jadi belum sempat urus ini dan urus itu..belum lagi saya bukan dari sini..jadinya efortnya terlalu rugi…
tapi kalau presiden mungkin bisa dicoba ..karena yang pastinya lebih sedikit..jadi lebih seru..kalau DPR mah ya gitu deh..
di kampus ku sendiri sih..hal yang paling menyebabkan kabinet mahasiswa ku mengalami krisis berkepanjangan dari 10 tahun kemaren ..karena kebobrokan dari kongress…kalau presidennya jago kok…nah ini juga bisa jadi gambaran untuk kedepannya..kalau DPR kita hancur ..maka negara ini hancur..dan itu ternyata bener..ya heran aja..proses pemilihan calegnya terlalu banyak..partainya terlalu banyak..bikin dikit napa ?..nah yang bisa menentukan itu semua..hanya orang-orang yang bener2 mempunyai kekuasaan penuh..di amerika itu pilih 2 ..karena itu simple banget ..dan orang tentunya merasa rugi kalau gak milih..keren kan..disini ..wadou..partainya banyak lagi..
Posted by ekaria27 on April 14, 2009 at 1:03 PM
belajar berdemokrasi dengan banyaknya pilihan hehehe.
Kalau dua pilihannya malah lebih sedikit ya dibanding Orba dulu… (bukan berarti buruk siy)
Cuma…. (mungkin saya posting di satu cerita saja kapan2 )
Posted by Paluhlimbuy on April 13, 2009 at 6:14 AM
Saya gak nyontreng.. soalnya bangun kesiangan.. hehehe…
Posted by ekaria27 on April 14, 2009 at 1:21 PM
Emang gak niat nyontreng kali
Posted by Nug on April 13, 2009 at 3:00 PM
Perdebatan Nalar dan kalbu sepertinya emang sering yaa..
Ada area yang mudah ditangkap dengan nalar..
Ada area yang sangat terasa di kalbu dan gak tertangkap Nalar..
Paling enak kalau keduanya sepakat..
Nice posting Eka..
Posted by ekaria27 on April 14, 2009 at 1:23 PM
Kalo nggak sepakat biasanya jadi gila lho pak..
Amit – amiit jangan sampe
Posted by mas stein on April 13, 2009 at 4:08 PM
nalare sampeyan kejam tenan mbak, ndak semua busuk kok, ada yang masih separo mambu, diangetin masih bisa dimakan
Posted by ekaria27 on April 14, 2009 at 1:24 PM
emangnya ikan mas ? hehhee
Posted by mangkum on April 13, 2009 at 10:43 PM
Kalau gw, perang antara nalar dan kalbu, antara logic dan rasa, seringkali pemenangnya itu kalbu.
Duh padahal ga make sense loh. Ga sesuai dengan nilai2 yang telah gw susun rapi sesuai dengan logic yang gw anut. Banyak orang yg ga setuju, protes. Tapi hey, ini hidup gw, biarkan gw mengarunginya bersama kalbu…
Posted by ekaria27 on April 14, 2009 at 1:27 PM
Hidup mangkum… !
tiap orang punya versi dan tatanan hidup sendiri.
Beda orang beda kalbu…
Posted by guidelife on April 15, 2009 at 1:03 PM
kalbu bekerja dengan proses yang belum kita bisa pahami. Yang jelas kalbu merekam dalam banyak format, ada yang temporary memory sampai yang permanent, ndak bisa didelete. Ada yang memorynya gampang di-retrieve, ada yang nyungsep jauh kedalam sehingga sulit di-retrieve.
Sangat berbeda dengan nalar yang bekerja secara analitis, metodis, systematis.
Kelebihan kalbu adalah KECEPATAN-nya dan OTOMATIS. Sangat-sangat efisien. Sementara berfikir nalar LAMBAN dan membutuhkan data. Kesulitannya sering bukan karena kurangnya data tetapi justru terlalu banyak data sehingga membikin nalar gumyur. hihihi…
Posted by denny on April 17, 2009 at 12:37 PM
masih belum cukup umur saya ito..
jadi enggak nyontreng,,
Posted by Sepotong Cerita di Casablanca « EKA’s little story on April 29, 2009 at 1:43 PM
[...] menyudahi drama pagi hari ini dengan merelakan beberapa lembar jatah hang out akhir pekan, namun nurani di dalam kalbu ini teriak – teriak terus. Tahu sendiri kan nurani suka negur keras-keras. Kami berdua diam dalam [...]
Posted by kacierkusuma on Oktober 29, 2009 at 2:39 PM
wah asik ni bisa tambah pengalaman antara perbedaan nalar dan kalbu..